Ketidakseimbangan Global Dan Defisit di Amerika

Bank Indonesia dan Inflation Targeting
June 14, 2013
Kredibilitas dan kebijakan BBM
June 18, 2013
Show all

Ketidakseimbangan Global Dan Defisit di Amerika

Dias Satria

Topik ketidakseimbangan Global dan US (The United States) defisit saat ini marak diperbincangkan oleh para ekonom dunia. US sebagai Negara adidaya, Negara terkuat ekonominya, saat ini sedang mengalami defisit yang semakin besar sejak tahun 1990. Pada tahun 2000-2004, tren defisit US semakin meningkat dari senilai 416 miliar dollar di tahun 2000 meningkat hingga 664 milliar dollar di tahun 2004.

Grafik diatas menjelaskan bahwa tren defisit US bergerak seiring dengan jumlah aliran modal masuk ke US. Hal ini secara teoritis sangat berkaitan karena sumber utama defisit suatu negara sudah pasti dibiayai oleh aliran modal yang masuk. Sebagai contoh jumlah aliran modal masuk di Amerika tahun 2000 mencapai 486 milliar Dollar, setara dengan besarnya defisit transaksi berjalan Amerika yang senilai 416 miliar Dollar. Keadaan ini secara umum jelas membuktikan secara teoritis bahwa posisi defisit/surplus neraca transaksi berjalan (current account) merefleksikan masuk/keluarnya aliran modal. Penjelasan sederhana secara matematis akan dijelaskan selanjutnya.

Keadaaan defisit di Amerika tentu memiliki kaitan yang kuat dengan keadaan surplus dibeberapa negara seperti di Asia, Timur Tengah dan Eropa saat ini. Benang merah inilah yang secara umum menjelaskan fenomena ketidakseimbangan global dan defisit di Amerika. Bahwa defisit terjadi di Amerika, dan surplus di sebagian dunia yang lain (Rest of the world). Sebagai contoh keadaan surplus neraca pembayaran yang terjadi di Asia telah meningkatkan jumlah surplus cadangan yang dimiliki negara tersebut. Pada tahun 2000-2005, akumulasi cadangan Asia mencapai 1178 milliar dollar, sedangkan Rusia mencapai 167 milliar dollar dan Timur Tengah mencapai 50 milliar dollar. Di Asia, kontributor terbesar cadangan adalah dari China, India, Korea dan Taiwan yang kesemuanya mengalami surplus dalam neraca transaksi berjalan (kecuali India) dari hasil ekspor yang tinggi dalam perdagangan internasional.

Keadaan defisit yang semakin besar di US tentu menimbulkan perdebatan. Pandangan yang skeptis terhadap US defisit, berargumen bahwa jika investor dunia dalam satu waktu menarik modalnya dari US “Sudden STOP”, maka keadaan deficit ini tidak akan berlangsung lama dan akan mengancam ketidakseimbangan dunia karena akibat defisit ini US akan mengalami resesi ekonomi.

Pandangan skeptis tersebut didasarkan pada alur berfikir, defisit di US akan mendorong nilai tukar US terdepresiasi. Hal ini didasarkan pada keseimbangan BOPA (Balance of Payment Accounting) bahwa untuk membiayai defisit dibutuhkan aliran modal masuk yang lebih banyak, dan dengan alasan ini maka nilai tukar US harus terdepresiasi untuk menarik modal masuk tersebut. Dengan nilai tukar yang terdepresiasi, maka nilai atau harga asset di US akan jatuh secara drastis dan selanjutnya akan menyebabkan resesi bagi US ekonomi.

Namun, Sebelum lompat pada kesimpulan seperti diatas, ada baiknya saya menguraikan permasalahan US defisit dalam perspektif sederhana makroekonomi.

Model makroekonomi tentang defisit

Secara umum, jika kita berbicara tentang defisit bisa diartikan bahwa pengeluaran yang dikeluarkan lebih besar dari penerimaan yang diterima. Dalam konteks ekonomi makro, defisit juga memiliki pengertian dasar PENGELUARAN suatu NEGARA melebihi penerimaan NEGARA tersebut, atau INVESTASI melebihi TABUNGAN.

Secara matematika dapat dijelaskan secara sederhana dalam penghitungan Balance of Payment Accounting dimana dalam kondisi nilai tukar fleksibel :

CAB + KAB = 0   atau CAB = minus KAB.

(Note : CAB adalah Current Account Balance sedangkan KAB adalah Capital Account Balance atau aliran modal)

Dengan kata lain, suatu Negara yang mengalami current account deficit (CAB (-)) pasti memiliki aliran modal masuk yang positif (KAB (+)), dan ini berlaku sebaliknya.

Dalam perekonomian tertutup (tidak ada ekspor impor, X-M=0), besarnya INVESTASI dibatasi oleh TABUNGAN DOMESTIK (NATIONAL SAVING) atau I = S + ( T – G ), namun dalam perekonomian terbuka, INVESTASI tidaklagi dibatasi oleh besarnya TABUNGAN DOMESTIK. Hal ini disebabkan karena dalam perekonomian terbuka INVESTASI DOMESTIK sangat mungkin dibiayai oleh TABUNGAN LUAR NEGRI yang masuk kedalam negri atau CAPITAL INFLOW.

Jika kita rearrange persamaan diatas dapat menjadi CAB = S + (T – G) – I

Notes : Components of CAB, CAB = Trade Balance + NFIA.

Trade Balance = Merchandise Trade + Services Trade; NFIA = Net Factor Income from Abroad (remittances, profits, dividends, etc.).

Sehingga dapat dimengerti bahwa current account balance merupakan refleksi dari TABUNGAN DOMESTIK dikurangi INVESTASI. Berkaitan dengan konteks US defisit, defisit yang dimaksud di US saat ini adalah deficit dalam Current Account. Oleh karena itu deficit yang terjadi di US sangat mungkin disebabkan karena :

Dari formula diatas ada 2 kemungkinan mengapa S + (T – G) > I,

1)    S Saving yang rendah (private saving menyangkut household saving dan corporate saving)

2)    Atau porsi pengeluaran pemerintah yang tinggi (G > T)

Pembiayaan terhadap US deficit didapat dari aliran modal yang masuk (capital inflow), dengan mekanisme pembelian US Assets (US GOVERNMENT BONDS) oleh masyarakat dunia (rest of the world). Hal ini menunjukkan terjadinya perubahan status yang unik dimana Negara berkembang yang sebelumnya adalah NET DEBITOR sekarang telah berubah menjadi NET CREDITOR. By the same token,  AMERIKA saat ini berubah status menjadi NET DEBITOR.

Pandangan skeptis seperti yang diuraikan singkat di paragraf 1 dan 2 bisa jadi dianggap sebagai skenario terburuk apa yang terjadi di US. Namun, pandangan-pandangan lain yang melihat us defisit sebagai hal yang tidak perlu ditakuti juga harus difahami dengan seksama. Mereka juga berpandangan bahwa yang dilakukan US saat ini adalah sustained the unsustainable”.

Pandangan ini beranggapan bahwa US sebagai Negara dengan sistem ekonomi dan keuangan yang kuat, dan tidaklah rentan terhadap krisis. Pandangan tersebut didasari oleh beberapa analisis sebagai berikut : mereka berpandangan bahwa yang terjadi saat ini adalah GLOBAL RISK DIVERSIFICATION. Di satu sisi US berinvestasi di emerging markets, ditempat yang returnnya tinggi namun resikonya tinggi. Sedangkan REST OF THE WORLD (ROTW) berkebalikan dan lebih risk averse, dimana mereka lebih memilih investasi di tempat yang aman meski returnnya rendah.

 

Siapa yang membiayai defisit di Amerika ?

Defisit yang terjadi di Amerika tentu sangat berkaitan dengan surplus yang terjadi dibelahan dunia lainnya (on the rest of the world. Jika kita lihat dari indikator neraca keseimbangan Balance of payment (BoP) dibawah ini dapat dijelaskan bahwa setelah krisis tahun 1997 negara-negara di Asia telah berubah status dari defisit current account (CA) menjadi surplus current account. Surplus dari CA tentu memberikan banyak peningkatan dalam jumlah cadangan yang dimiliki oleh negara-negara tersebut sehingga jumlah cadangan yang dialami oleh negara berkembang jumlahnya meningkat drastis ditahun 2000-2005. Jumlah reserve yang meningkat inilah yang pada akhirnya diinvestasikan oleh negara-negara berkembang dalam surat-surat berharga di Amerika.   

Berdasarkan hasil survey Bureou of Economic Analysis, aliran modal yang masuk ke pasar keuangan US mengalami perubahan komposisi yang signifikan, yang sebelumnya didominasi oleh investor private telah bergeser didominasi oleh investor negara (dalam konteks ini Bank Sentral). Pertanyaan mendasarnya, apa yang melatar belakangi bank-bank sentral dunia (ROTW-Rest of The World) menginvestasikan cadangannya dalam bentuk obligasi pemerintah US (T-Bills). Tentu jika dilihat dari sisi return yang diberikan, obligasi pemerintah US tidak memberikan pengembalian yang tinggi meski patut diakui bahwa tingkat resikonya rendah atau “low risk, low return”. Oleh karena itu alasan ini tentu tidak dapat digunakan sebagai landasan mengapa bank-bank sentral menginvestasikannya pada pasar keuangan Amerika.

Partisipasi pihak bank sentral (official) untuk menginvestasikan cadangannya dalam bentuk dollar memiliki alasan yang sederhana, antara lain : Pertama) Hal ini disebabkan karena masih kuatnya anggapan bahwa US Dollar masih mendominasi sebagai alat tukar dalam perdagangan internasional (US Dollar Standard), sehingga investasi dalam bentuk dollar sangat bermanfaat sebagai cadangan bank sentral. Kedua) Ada kecenderungan bank-bank sentral di dunia masih melakukan implisit peg dalam upaya stabilisasi nilai tukarnya terhadap dollar atau “fear of floating”. Cadangan dollar ini yang secara umum digunakan sebagai amunisi jika terjadi tekanan atau pressure yang membahayakan stabilitas nilai tukar negara tersebut. 

Reinhart (2000) menjelaskan negara-negara berkembang sangat riskan untuk membiarkan nilai tukarnya berfluktuasi bebas “fear of floating”, karena jika keadaan ekonominya baik, nilai tukar yang tinggi akan mengurangi tingkat daya saing barang-barang ekspornya sedangkan jika keadaan ekonominya buruk, mereka takut nilai tukarnya jatuh karena tingginya denominasi pinjaman dalam bentuk mata uang asing (dollar $). Devaluasi nilai tukar hanya akan menyebabkan resesi dan inflasi,bukan export led growth.

Keadaan inilah yang secara tidak langsung mempengaruhi strategi bank-bank sentral dunia dengan melakukan investasi dalam bentuk dollar di pasar keuangan Amerika, yang secara umum ditujukan dalam upaya stabilisasi nilai mata uangnya terhadap dollar.

 Perdebatan mengenai US defisit

Dalam memahami perdebatan mengenai US deficit, dapat dianalisis dari 2 sudut pandang. Pertama dari sisi atau pos current account, dan yang kedua dari sisi atau pos capital account.

Berdasarkan pos current account, ada tiga poin penting yang dapat dijadikan argumen mengapa terjadi defisit di US. Pertama, berkaitan dengan overspending yang terjadi dalam perekonomian US. Hal ini tentu saja merujuk pada persamaan sebelah kanan, dimana S + (T – G) > I, dengan kemungkinan keadaan yang disebabkan oleh rendahnya tabungan di US dan tingginya pengeluaran pemerintah dibandingkan dengan pajak yang diterima.

Kedua, berkaitan dengan kebijakan ROTW yang menekankan pada kebijakan perdagangan surplus (import lebih kecil dari ekspor). Ketiga, berkaitan dengan kemungkinan semakin tingginya pendapatan masyarakat US sehingga mendorong mereka untuk meningkatkan pengeluarannya terhadap import. Dengan kata lain, perbedaan tingkatan ekonomi kearah yang lebih tinggi mendorong US untuk meningkatkan kebutuhan importnya. Hal ini sejalan dengan formula M=M(Y,RER) (Note : M adalah Import, Y adalah Pendapatan dan RER adalah Real Exchange Rate)

Berdasarkan pos capital account, ada 2 poin penting yang dapat dijadikan argumen mengapa terjadi defisit di Amerika. Pertama, menariknya investasi di US. Sudah menjadi hal yang utama bahwa investasi dalam surat-surat berharga US memiliki tingkat resiko yang sangat rendah. Kedua, Oversaving yang terjadi di ROTW.

Secara umum Twin defisit yang terjadi dapat berlangsung secara sustainable jika masyarakat dunia masih menganggap US dollar memiliki kredibilitas yang tinggi, dalam arti US dollar masih digunakan secara luas dalam perdagangan internasional dan investasi US dollar masih menarik bagi para investor. Namun jika yang terjadi adalah sentimen negatif dari sebagian penduduk dunia yang antipati terhadap performa US dollar, maka lambat laun preferensi masyarakat dunia untuk menggunakan US dollar sebagai standar internasional akan berubah. Dan hal ini tentu saja akan menjadi mimpi buruk bagi perekonomian US yang akan datang. Pertama, sentimen yang negatif dari masyarakat dunia akan berdampak pada keluarnya modal (capital outflow) yang sebelumnya di parkir dalam obligasi pemerintah US. Kedua, aliran modal keluar (Capital outflow) akan menyebabkan US Dollar akan tertekan yang pada akhirnya akan membuat defisit US akan semakin besar. Permasalahan inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan permasalahan yang serius pada perekonomian makro US akibat sudden stop yang dilakukan oleh masyarakat dunia.

Recent trends : Depresiasi Dollar dan Ancaman Resesi Dunia

Ekonomi global seakan tidak pernah berhenti menghadapi ancaman dan tantangan baru. Sejak dihadapkan pada semakin menurunnya performa pasar-pasar keuangan dunia dan penurunan pertumbuhan ekonomi Amerika, ekonomi global saat ini dihadapkan pada ancaman depresiasi Dollar yang dapat mengakibatkan ancaman krisis dan resesi global.

Amerika Serikat, sebagai negara yang terkuat ekonominya sedang mengalami defisit yang besar sejak tahun 1991. Pada 2006, defisit AS mencapai 6.2% dari total GDP (Gross Domestic Product). Defisit di AS populer dengan istilah Twin Deficit atau defisit ganda, yaitu defisit pada anggaran dan transaksi berjalan.

Dalam perspektif makro, keadaan defisit AS dapat dijelaskan dari rendahnya tingkat tabungan dan tingginya pengeluaran pemerintah AS dibandingkan pajak yang diterima. Keadaan defisit tentu menimbulkan perdebatan 2 pihak, pertama pihak yang menganggap defisit AS bukanlah permasalahan yang perlu ditakutkan, karena yang dilakukan AS saat ini adalah sustained the unsustainable. Hal ini bisa dilakukan AS karena posisi kekuatannya dalam perekonomian global dan digunakannya US dollar sebagai mata uang yang luas diterima dalam perdagangan internasional (US Dollar Standard). Kedua, pihak yang menganggap defisit AS dapat mengancam resesi AS, dan resesi dunia. Hal ini didasari pada alasan jika terjadi “sudden stop” atau investor dunia menarik modalnya di pasar keuangan AS secara tiba-tiba untuk membiayai defisit AS, maka yang akan terjadi adalah resesi ekonomi.

Jika ada defisit, tentu ada yang surplus. Pertanyaannya adalah, siapakah yang surplus, yang selama ini membiayai defisit AS dan mengapa itu dilakukan? Sejak tahun 2000, pembiayaan defisit di AS tidak lagi didominasi oleh Private Inflow atau investor bisnis, namun bergeser dibiayai oleh Official Inflow atau investor Pemerintah (Bank Sentral). Dalam konteks ini, bank-bank sentral dari negara surplus membiayai defisit AS melalui investasi obligasi T-bills di pasar keuangan AS. Negara-negara surplus tersebut antara lain, China dan negara-negara Asia serta negara-negara Timur tengah.

Berdasarkan gambaran diatas dapat diambil benang merah apa yang terjadi saat ini dalam perekonomian global. Bahwa defisit terjadi di AS dan surplus terjadi di dunia bagian lain (rest of the world). Surplus pada rest of the world yang berasal dari surplus perdagangan internasional, yang diinvestasikan dalam bentuk obligasi Dollar memiliki alasan khusus berkaitan dengan kebijakan nilai tukarnya. Diterimanya Dollar secara luas dalam perdagangan internasional, telah meningkatkan insentif bank-bank sentral tersebut untuk mengupayakan strategi stabilisasi nilai tukarnya terhadap Dollar dengan menginvestasikan cadangan devisanya dalam Pasar keuangan AS. Hal ini selain dilakukan dalam upaya menjaga performa daya saing ekspornya, juga dilakukan untuk mengakumulasi cadangan devisanya untuk memperkuat stabilitas nilai tukarnya dari tekanan spekulasi mata uang.

Namun permasalahannya saat ini adalah, Dollar AS sedang mengalami tren yang semakin menurun dalam kurun waktu lima tahun terakhir. (The Economist, Desember 2007)

Ada beberapa faktor fundamental yang menyebabkan terjadinya tren depresiasi Dollar AS, antara lain : 1)Tingginya defisit AS, 2)Keadaan siklis rendahnya pertumbuhan ekonomi AS dan tingginya pertumbuhan negara lain, 3)Lebarnya perbedaan suku bunga AS dan negara lain, khususnya setelah pemotongan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Tentu tren penurunan Dollar AS menimbulkan kekhawatiran dunia, apakah depresiasi Dollar AS ini sebagai bentuk ketidakpercayaan investor dunia pada kekuatan perekonomian AS? Jika ini yang terjadi maka krisis Dollar AS akan memicu terjadinya resesi ekonomi AS, dan Dunia tentunya.

Keselamatan ekonomi global saat ini bergantung pada kebijakan domestik AS dan negara-negara yang menginvestasikan cadangan devisanya di AS. Dalam konteks ini penyelematan ekonomi global sangat bergantung pada kebijakan domestik AS dalam mengurangi defisit yang terjadi. Di sisi lain, perilaku official investor  yang secara tiba-tiba (sudden stop) menarik investasinya di pasar keuangan AS tentu akan menyebabkan resesi dan goncangan dalam ekonomi AS. Terjadinya resesi di AS pasti akan berdampak pada masyarakat dunia, yang menyebabkan terjadinya resesi di dunia. Hal ini disebabkan karena ekonomi AS memiliki kaitan yang kuat dengan perekonomian dunia.

Kesimpulan

Kebijakan ekonomi US yang menerapkan strategi defisit dengan bergantung pada status “US Dollar Standard” dan aliran modal masuk dari negara lain (ROTW) tentu dalam jangka panjang akan menemui tantangan yang cukup besar ketika preferensi masyarakat dunia bergeser pada penggunaan mata uang lain, sebagai contoh : Euro. Oleh karena itu dalam upaya menghindari permasalahan dan resiko yang mungkin terjadi di US salah satu solusi yang terbaik adalah dengan mengurangi besarnya defisit US yang semakin besar.  

DAFTAR PUSTAKA 

Agung, Juda, Dkk, Credit Crunch di Indonesia Setelah Krisis (Fakta Penyebab           dan Implikasi Kebijakan), 2001.

Basalm ,Umar, Dkk, Perekonomian indonesia (krisis dan strategi alternatif), Cidesindo, 200.

Bibow, Jorg. 2005. “Europe’s Quest for Monetary Stability: Central Banking Gone Astray.” Working Paper No. 428: Levy Economic Institute.

Bird, G. and R. Rajan. 2002a. “The Evolving Asian Financial Architecture.” Princeton Essays in International Economics No.226 (International Economics Section, Princeston University)

Brouwer, Gordon de. 2002. Financial Markets and Policies in East Asia. London: Routledge.

Bubula, Andrea and Inci Otker-Robe. 2003. “Are Pegged and Intermediate Exchange Rate Regimes More Crisis Prone?” IMF Working Paper, WP/03/223.

Calvo, Guillermo A. and Enrique G. Mendoza. 2000. “Capital-Markets Crises and Economic Collapse in Emerging Markets: An Informational-Frictions Approach.” The American Economic Review, 90:2, pp. 59-64.

Cavoli, Tony and Ramkishen Rajan. 2003. “Inflation Targeting Arrangements In Small And Open Economies In Asia And Elsewhere: Exploring The Role Of The Exchange Rate.” Accessed 2 Agustus, 2007. Available from URL: http://www.freewebs.com/rrajan01/ITJan06.pdf

Chang, Roberto and Andres Velasco. 2000. “Exchange Rate Policy for Developing Countries.” the American Economic Review, 90:2, pp. 71-75.

Cho, Yoon-Je and Deena Khatkhate. 1989. Lesson of Financial Liberalization in Asia: A Comparative Study. Washington, D. C: The World Bank.

Chowdhry, Baghwan and Amit Goyal. 2000. “Understanding the financial crisis in Asia.” Pacific-Basin finance Journal, 8, pp. 135-52.

Corsettia, Giancarlo, Paolo Pesenti, and Nouriel Roubini. 1999. “What caused the Asian currency and financial crisis?” Japan and the World Economy, 11, pp. 305-73.

Eichengreen. B. 2006. “The parallel currency approach to Asian monetary integration.” Paper presented at the Association Allied Social Science Association annual meeting in January 2005. Accessed 20 Agustus, 2007. Available from URL: http://www.aeaweb.org/annual_mtg_papers/2006/0107_1015_1303.pdf

Eichengreen, Barry and Ricardo Hausmann. 1999. “Exchange Rates and Financial Fragility.” NBER (National Bureau of Economic Research), Working Paper 7418.

Eichengreen, Barry, Ricardo Hausmann and Ugo Panizza (2003a), The Pain of  Original Sin, NBER (National Bureau of Economic Research) mimeo

Eiji Ogawa, Junko Shimizu. 2006. “Stabilization of Effective Exchange Rate Rates Under Common Currency Basket Systems.” Journal of the Japanese and international economies, 20, pp. 590-611.

Epstein, Gerald A. 2005. Capital Flight and Capital Controls in Developing Countries. Massachusetts: Edward Elgar Publishing, Inc.

Frankel, Jeffrey A. 2003. “Experience and lessons from exchange rate regimes in emerging economies.” NBER (National Bureau of Economic Research), Working Paper 10032.

Frankel, Jeffrey, Sergio Schmukler, and Luis Serven. 2000. Verifiability and the Vanishing Intermediate Exchange Rate Regime. NBER (National Bureau of Economic Research), Working Paper 7901. Cambridge, Mass.: National Bureau of Economic Research.

Fratzscher, M. 2003. “On Currency Crises and Contagion.” international journal of finance and economics Int. J. Fin. Econ. 8: 109–129 (2003).

Garnaut, Ross H. Mcleod and Ross. 1998. East Asia in Crisis: From Being a Miracle to Needing One? London: Routledge.

Gerlach, S. and F. Smets (1996): “MCIs and monetary policy in open economies under  floating rates”. Mimeo, November.

Giavazzi, Francesco, Alberto Giovanni, David Begg, and Louka Katseli. 1986. “The EMS and the Dollar.” JSTOR, 1:2, pp. 455-85.

Glick, Reuven. 2002. “Fixed of floating : is it possible to manage in the middle,” in Financial Markets and Policies in East Asia. Gordon de Brouwer ed. New York: Routledge, pp. 200-34.

Goeltom, Miranda S,  Perubahan struktural sektor keuangan di indonesia: visi dan tantangan, CSIC , 1997.

Kebijakan moneter RI dalam menunjang pemulihan perekonomian nasional, makalah disampaikan dalam seminar, Unibraw, Malang, 2001.

Grauwe, Paul De. 2000. Economics of Monetary Union. New York: Oxford University Press, Inc.

Grauwe, Paul De. 2006. “Flaws in the Design of the Eurosystem?” International Finance, 9: 1, 2006, 137-144.

Heffernan, s. 2005. Modern Banking. England, Jhon Willey and Sons.

Kaminsky, Graciela L. and Carmen M. Reinhart .1999. “The Twin Crises: The Causes of Banking and Balance-of-Payments Problems”, American Economic Review, 89(3).

Kaminsky, Graciela L., and Carmen M. Reinhart. 2001. “Bank Lending and Contagion: Evidence from the Asian Crisis,” in T. Ito and A. Krueger, eds. Regional and Global Capital Flows: Macroeconomic Causes and Consequences, (Chicago: University of Chicago Press for the NBER).

Khalwaty, Tajul, inflasi dan solusinya, Gramedia, 2000.

Kwack, Sung Y. 2000. “Exchange Rate and monetary regime options for regional cooperation in East Asia.” Journal of Asian Economics, 16, pp. 57-75.

Llewellyn, David T. 1980. International Financial Integration: The Limit of Sovereignty. London: The Macmillan Press Ltd.

Luckett, G Dudley, Uang Dan Perbankan, Erlangga, 1994

Mandle, J. R. 2003. Globalization And The Poor, Cambridge Univeraity Press.

McKinnon, R. and Huw Pill. 1999. “Exchange Rate Regimes for Emerging Markets: Moral Hazard and International Overborrowing.” Oxford Review of Economic Policy, 15, pp. 423 -64.

McKinnon, Ronald I. .2000a. “The East Asian dollar standard, life after death?”, World Bank Workshop on Rethinking the East Asian Miracle, published in Economic Notes, vol. 29, No. 1, February.

Mc Kinnon, R. 2000. “Mundell, the Euro and Optimum Currency Areas”, Journal of Policy Modeling, 22 (3).

McKinnon, Ronald I. 2005. Exchange Rate under the East Asian Dollar Standard: Living with Conflicted Virtue. London: The MIT Press.

McKinnon, R. I. and Huw Pill. 1997. “Credible Economic Development and Over-borrowing.” American Economic Review, 87 (2) 189-193.

McKinnon, R. I. and Gunter Schnabl. 2003. “Synchronized Business Cycles in East Asia: Fluctuations in the Yen/Dollar Exchange Rate and China’s Stabilizing Role.” The World Economy, 26, pp. 1067 -89.

McKinnon, R. I. and Gunter Schnabl. 2004. “The East Asian Dollar Standard, Fear of Floating and Original Sin.” Review of Development Economics, 8, pp. 331 -60.

Mishkin, F. S. 2000. “Inflation Targeting in Emerging Market Countries.” NBER Working Paper Working Paper 7618(JEL No.E5).

Mohanty, P. T. (2006). “Foreign exchange reserve accumulation in emerging markets: what are the domestic implications?” BIS Quarterly Review, September 2006.

Mundell, Robert. 2002. “Does Asia Need a Common Currency?” Pacific Economic Review, 7:1.

Murase, Tetsuji. 2002. A Zone of Asian Monetary Stability. Tokyo: Asia Pacific Press.

Obstfeld, Maurice and Kenneth Rogoff. 1995. “The Mirage of Fixed Exchange Rates.” Journal of Economic Perspectives, 9 (4) 73-96.

Ogawa, E. and K. Kawasaki, 2001, Toward an Asian Currency Union. In: Strengthening Economic Cooperation in Northeast Asia (eds Kim. Y. H. and Lee C. J.). Korea Institute for International Economic Policy, Seoul.

Ogawa, Eiji and Doo Yong Yang. 2006. “The Dilemma of Exchange Rate Arrangements in East Asia.” Japan and The World Economy, 633.

Rajan, Ramkishen. 2002a. “Exchange Rate Policy Options for Post Crisis Southeast Asia: Is There a case for Currency Baskets?” The World Economy, 25

Rajan, Ramkishen S. 2006. “Asian Exchange Rate Regimes Since The 1997-1998 Crisis.”

Accessed 20 Agustus, 2007. Available from URL: http://www.ips.org.sg/events/pos/papers/Policy%20Brief-20Kishen_all.pdf

Sachs, J. 2005. The End of Poverty. London, Penguin.

Singh, K. 2005. Menjinakkan Arus Keuangan Global. Jakarta, Infid.

Suharnanto, M, International and Asean surveillance process : “Upaya memonitor dan menanggulangi krisis ekonomi” , Bank Indonesia.

Schnabl, Ronald McKinnon and Gunther. 2004. “The Return to Soft Dollar Pegging in East Asia: Mitigating Conflicted Virtue.” International Finance, 7:2, 2004: pp. 169–201.

Spencer, Michael and Aileen Wong. 2002. “Asian Export Competitiveness and the Yen.” Global Markets Research:Deutsche Bank.

Stevens, G. 2007. “Central Bank Communication.” RBA Bulletin December 2007.

Stevens, G. 2007. “The Asian Crisis : a Restrospective” RBA Bulletin July 2007.

Stiglitz, J. 2006. Making Globalization Work. Australia, Penguin.

Stiglitz, Joseph E. 2002. Globalization and Its Discontents. London: W.W. Norton & Company, Inc.

Sturzenegger, Yeyati and. 2003. “Dollarization: A Primer by Eduardo Levy Yeyati and Federico Sturzenegger in Dollarization: Debate and Policy Alternatives.” MIT Press.

Taylor, Paul R. Masson and Mark P. 1993. Policy Issues in The Operation of Currency Unions. New York: Cambridge University Press.

Thakur, Abdessatar Quanes and Subhash. 1997. Macroeconomic Accounting and Analysis in Transition Economies. Washington, D. C: International Monetary Fund.

Cavoli, Tony and Rajan, Ramkishen S. 2004 “Exchange Rate Arrangements for East Asia Post-Crisis: Examining the Case for Open Economy Inflation Targeting”, in F. Columbus (ed.), Asian Economic and Political Issues Vol.5, Nova Science Publishers, forthcoming.

Volz, Ulrich. 2006. “On the feasibility of a regional exchange rate system for East Asia: Lessons of the 1992/1993 EMS crisis.” Journal of Asian Economics, 17, pp. 1107-27.

White, Ben Thirkell -. 2005. The IMF and the Politics of Financial Globalization: From the Asian Crisis to a New International Financial Architecture? New York: Palgrave Macmilan.

Williamson, Jhon. 2005. “A Currency Basket for East Asia, not just China.” Policy Brief in International Economics, PB05-1.

(2005). “Recent Shifts in Financing the U.S. Current-Account Deficit.” ECONOMIC AND BUDGET ISSUE BRIEF (CBO).

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *