[artikel] Eko-Wisata Batu

[artikel] Amerika Geram dengan China
January 9, 2012
[artikel] G-20 dan Kepentingan AS
January 9, 2012
Show all

Dias Satria

Salah satu percakapan ini benar-benar menggelitik saya ketika mengikuti Event Enduro Motocross yang dilaksanakan di Kota Batu di awal tahun 2010. Percakapannya kurang lebih seperti judul diatas “…bukan mbatu, tapi Kota Wisata Batu…” Dalam sekali makna ini, yang Saya pikir sebagai sebuah bentuk komitmen dan penguatan Image Kota Batu yang baru.

Patut diakui bahwa Kota Wisata Batu mampu mengangkat image wisata secara lebih professional dengan memanfaatkan potensi yang ada di wilayah ini. Beberapa Event nasionalpun mulai ditempatkan di Kota Wisata Batu, seperti: Kejuaraan Sepeda Sport Downhill, Jeep Adventure dll. Selain itu juga peningkatan investasi masuk ke wilayah Kota Batu sangat terasa, dilihat dari ramainya industri pariwisata di wilayah Kota Batu (ex: Jatim Park, Batu Night Spectacular, Museum Satwa dll.

Fakta sederhana ini menunjukkan sebuah prestasi pemerintah Kota Wisata Batu untuk menjamin lingkungan bisnis yang aman, stabil dan profitable. Dalam konteks ini maka perpaduan antara pengelolaan pemerintah (good governance) yang baik dan pelaku usaha mampu mendorong peningkatan investasi  dan perekonomian daerah. Sebuah prestasi hal yang tidak mudah untuk diraih, untuk merayu investor masuk ke sebuah wilayah. outcome ini secara langsung menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Wisata Batu minimal telah sukses memenuhi kebutuhan dasar para investor tersebut.

Namun perlu disadari bahwa peningkatan bisnis pariwisata tentu memiliki efek yang kompleks, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Di sisi positif, peningkatan koleksi pajak pemerintah tentu akan memperkuat belanja daerah untuk kebutuhan investasi infrastruktur serta program-program pembangunan guna mengentaskan kemiskinan. Selanjutnya multiplier efek terhadap peningkatan pendapatan masyarakat juga akan terkena, jika kelompok masyarakat tersebut memiliki potensi bisnis atau skill yang inline dengan kebutuhan pariwisata. Namun disisi lain, bisnis pariwisata juga menyimpan potensi yang negatif jika tidak diantisipasi dengan arif oleh pemerintah.

Masalah-masalah yang mungkin muncul antara lain: a) Tingginya gap disparitas pendapatan masyarakat, b) tergesernya sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan.

Dalam konteks pertama, “Trickle down effect” tidak selalu terjadi seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini disebabkan karena ada sebagian kelompok masyarakat yang tidak mampu menangkap peluang yang ada, karena keterbatasan modal, pengetahuan, network dll. Dalam kasus ini biasanya kaum miskin lah yang kerap dirugikan dengan ekses pembangunan tersebut. Oleh karena itu, perlu sebuah kebijakan jangka pendek, menengah dan panjang guna mengurangi dampak-dampak tersebut.

Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain: membuka selebar-lebarnya akses pasar bagi para penguasaha mikro dan menengah di setiap potensi wisata yang diijinkan masuk di Kota Wisata Batu. Yang kedua, penguatan konsep Ekowisata juga perlu diintensifkan guna menciptakan sebuah model wisata baru yang dekat dengan alam serta lingkungan sosial masyarakat pedesaan. Dalam hal ini keunikan tradisi dan kebiasaan lokal hendaknya dapat diangkat secara lebih matang di wilayah Kota Batu. Konsep pengembangan ekonomi lokal inilah yang popular disebut sebagai Ekowisata.

Selanjutnya peningkatan pariwisata tentu akan sedikit banyak menggeser sektor pertanian yang sebelumnya menjadi motor penggerak ekonomi Kota Wisata Batu. Dalam konteks yang spesifik, melambungnya harga property atau tanah (Inflasi harga property) akan memperburuk insentif masyarakat untuk konsisten di sektor pertanian. Dalam hal ini ada kemungkinan pemilik lahan akan mengganti fungsi lahannya untuk kebutuhan bisnis dengan nilai tambah yang lebih besar (value added). Di sisi lain, bagi para pelaku sektor pertanian yang tidak memiliki lahan akan menghadapi biaya sewa lahan yang semakin tinggi, yang akan berimbas pada tingkat daya saing dan efisiensi di sektor pertanian.

Penanganan yang lebih serius mungkin bisa diprioritaskan untuk mengembangkan Ekowisata Batu agar mampu mensupport perekonomian lokal, di sisi lain pengembangan sektor agribisnis hendaknya juga harus digarap serius oleh pemerintah dengan penguatan kelembagaan dan capacity building bagi para petani lokal. Endingnya adalah bagaimana meningkatkan daya saing produk lokal yang bermutu. Selanjutnya, pengembangan inovasi dari turunan produk pertanian hendaknya juga dapat disupport oleh pemerintah karena potensi wisata secara tidak langsung juga akan semakin mendorong peningkatan kebutuhan akan oleh-oleh yang khas dari Kota Wisata Batu.

Terakhir, peningkatan sisi penerimaan sektor pariwisata tentunya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal guna mendorong belanja daerah yang pro terhadap masyarakat miskin dengan kebijakan-kebijakan strategis yang sifatnya jangka menengah dan panjang. Hal ini merupakan hakikat sesungguhnya pembangunan yang sukses meminimalisir efek disparitas pendapatan dan pemerataan pembangunan.

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *