[artikel] Menguak Tabir Century

[artikel] Buah Simalakama Bank Indonesia
January 9, 2012
[artikel] AFTA: Kebangkitan Ekonomi ASEAN?
January 9, 2012
Show all

Dias Satria

Kasus Bank Century merupakan isu cukup bombastis, tatkala rembetan masalahnya mampu menjarah kredibilitas politik dan pertarungan antara institusi-institusi besar di negeri ini, seperti: KPK dan Kepolisian. Bahkan pemerintah seakan tak berdaya mengurai kusutnya penyelesaian masalah ini, dari masalah penjaminan (bail out) yang kontroversial hingga penyelesaian hukum bagi para aktor yang bermain air keruh didalam kasus ini.

Ada banyak pihak yang coba diumpankan dalam kasus Century, belum lagi masalah yang dipolitisir yang menjadi komoditas yang mantap untuk disajikan sebagai umpan pertikaian.

Namun uraian kasus ini perlu ditata kembali agar penyelesaian kasus didalamnya dapat terselesaikan dengan baik, dan pelajaran mahal ini “6.7 Triliun” tidak terulang lagi dimasa depan.

Sumber perdebatan yang tidak perlu dibesar-besarkan!

Ketika membahas Too Big Too Fail pasti selalu ada trade off atau pilihan yang sulit antara menyelamatkan ekonomi dari kekacauan keuangan sistemik ataukah menyelamatkan dana masyarakat karena biaya injeksi yang sudah pasti besar untuk perbankan. Masih ingat dengan kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) akibat krisis 1997, total biaya yang harus dikorbankan mencapai Rp. 600 Triliun. Dan untuk kasus Bank “setidakpopuler” Century mampu meraup kocek masyarakat hingga Rp 6.7 Triliun.

Sebagian pendapat yang mendukung aksi Bail Out tentu berpendapat bahwa kekacauan sistemik adalah masalah yang serius.

Rasionalnya adalah satu Bank yang “sakit” akan memiliki dampak yang luas jika dibiarkan bankrut. Pertama, potensi resiko yang disebabkan karena connected lending dari satu bank ke bank lainnya menyebabkan ketidakmampuan membayar satu bank akan menyebabkan kerugian pada bank lainnya. Selanjutnya jika banyak bank yang mengalami “sakit” karena tertular, maka bisa dipastikan sistem keuangan yang menjamin sistem pembayaran dan fungsi intermediasi akan sulit berfungsi optimal. Terakhir, mandulnya fungsi strategis yang ada dalam sistem keuangan tentu akan berdampak pada kinerja sektor riil. Hal inilah yang biasanya dijadikan sebagai rasional dibalik penjaminan bank yang ditujukan untuk mengurangi dampak yang sistemik.

Namun pendapat lain yang berhati-hati dengan kebijakan Bail Out, rasionalnya sederhana Dana injeksi perbankan tidak pernah murah. Sehingga perlu kehati-hatian dan ketepatan guna menghindari kerugian Negara.

 

 

Masalah Bank itu-itu saja!

Tidak sulit sebenarnya mengungkap potensi resiko yang dialami suatu Bank, yang muaranya adalah perilaku “Moral Hazzard” yang tidak terdeteksi sejak awal. Dalam kasus ini potensi resiko “Century” sebelum collapse diakibatkan karena kasus-kasus kejahatan kerah putih (white collar crime) yang biasa dilakukkan penjahat-penjahat perbankan, antara lain: L/C (Letter of Credit) dan Kredit fiktif. Bujuk rayu debitur untuk memanfaatkan dana masyarakat yang ada di Century, untuk bisnis yang sengaja di hidden atau sekedar melewati rambu-rambu atau batas-batas kewajaran memang mendorong adrenalin. Termasuk para pegawai Century yang terbuai dengan keuntungan dan imbal balik yang menjanjikan.

Pelajaran penting ini menjelaskan bahwa setinggi keuntungan yang dijanjikkan oleh Debitur “Nakal” adalah palsu, dan menyalahi ketentuan prinsip prudential banking (kehati-hatian). Dalam kasus Century, hendaknya eksekutor yang melancarkan kredit dan L/C fiktif harus dipidanakan karena ini KRIMINALITAS sebagai upaya melarikan tanggung jawab dana masyarakat.

Masalah selanjutnya yang dilakukkan oleh “Century” terkait dengan permainan di Pasar Uang. Ini pulalah yang harus menjadi perhatian Bank Indonesia bahwa telah terjadi Pergeseran fungsi vital perbankan, dari aktivitas yang “tradisional” ke aktivitas yang “non tradisional” (fee based income, transaksi derivatif-off balance sheet dll) disebabkan oleh berbagai permasalahan yang kompleks menyangkut ketatnya persaingan industri perbankan, inovasi dan globalisasi keuangan.

Pelajaran penting ini menjelaskan pentingnya pembobotan yang besar atas Modal yang harus dikenakan sebagai kompensasi antisipasi resiko dari permainan di pasar uang yang rentan resiko. Hal ini diharapkan dapat menjadi buffer jika terjadi kerugian.

Dibungkus rapih atas kerjasama para penjahat

Kejahatan perbankan yang dilakukkan oleh penjahat perbankan merupakan aksi kerjasama yang sangat sempurna, yang memadukan antara pengawasan yang lemah, kejahatan pencatatan (akuntansi) yang lihai dan aksi resiko yang telah direncanakan. Belum lagi situasi ini ditutup-tutupi dengan promosi perbankan yang gencar (suku bunga deposito yang tinggi dan hadiah MEGA HEBOH untuk menarik dana masyarakat, guna menutupi kerugian). Belum lagi fungsi front liner (Customer Service) yang sedap dipandang guna menutupi kepanikkan back office dan manajemen yang sedang kelimpungan karena hilangnya dana masyarakat secara teratur.  Semua seperti berjalan rapi, hingga borok-borok dan bau kotoran “kebankrutan” mulai menyeruak, dan kepanikkan nasabah mulai muncul.

Terakhir

Sepertinya Bank Indonesia perlu lebih jeli melihat kasus-kasus kejahatan kerah putih (White Collar Crime) yang memang selalu maju dalam menciptakan kejahatan dengan modus-modus lama namun dengan cara yang lebih cantik. Meski sangat “dilematis” bagi BI, karena mengumumkan bank yang sakit bisa jadi boomerang bagi kesehatan sistemik keuangan. Namun disisi lain Injeksi likuditas dapat mengundang perdebatan karena biaya fiskal atau beban negara yang “sangat” tinggi.

Dalam kasus Bank Century dapat menjadi kurang elegan untuk disandingkan dengan rasional sehat Too Big Too Fail. Pertama, penyelamatan Century sarat dengan penyelamatan deposan kakap. Kedua, secara historis aktivitas perbankan Century yang tidak sehat sudah lama menjadi penyakit dalam tubuh Century. Ketiga, kasus Century sarat dengan connected political lending atau koneksi resiko politik yang sangat rumit. Sehingga ada baiknya kasus Bank Century dapat diteruskan kasusnya di tingkat pengadilan agar dapat dijernihkan. Hal ini dilakukkan agar rasional Too Big too Fail tepat pada porsinya dan tidak digunakan “seenaknya”.

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *