[artikel] UMKM dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015

Dondong videography
January 5, 2015
Abon Jamur Mas Bassist
January 12, 2015
Show all

Oleh: Dias Satria

Integrasi pasar tunggal ASEAN 2015 tinggal menghitung hari. MEA 2015 memiliki sebuah peluang dan ancaman bagi perekonomian domestik, khususnya bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). MEA direalisasikan dengan ide dasar untuk mentransformasikan ASEAN menjadi sebuah kawasan pasar bebas tunggal dan basis produksi bagi pergerakan barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan arus modal. Selanjutnya, MEA juga diarahkan sebagai sebuah kawasan yang sangat kompetitif; sebuah kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata; dan sebuah kawasan yang terintegrasi penuh dengan perekonomian global.

MEA merupakan sebuah bentuk dari Free trade area (FTA) seperti EU (European Union) dan NAFTA (North American Free Trade Area). Pada dasarnya, pelaksanaan FTA ditujukan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi diantara negara kawasan untuk meningkatkan sebuah ekspansi perdagangan (trade creation). Meski harus disadari, bahwa FTA juga berpotensi menyebabkan trade diversion yang menyebabkan tingginya biaya impor dari negara lain selain member FTA.

Beberapa hal yang harus diantisipasi dari MEA diantaranya adalah meningkatnya resiko penularan krisis ekonomi melalui transmisi perdagangan maupun keuangan (perbankan dan pasar saham). Disisi lain, ekonomi lokal juga harus mulai mengantisipasi efek MEA terhadap ekonomi, khususnya terhadap kompetisi usaha, tingkat pengangguran dan kemiskinan.
Dalam MEA, pengembangan UMKM mendapatkan perhatian khusus. Sebagi sebuah entitas bisnis yang dominan di ASEAN, UMKM memiliki kontribusi yang besar terhadap pembangunan regional karena partisipasinya dalam jaringan produksi internasional (international production network) dan rantai tata nilai global (global value chain). Dalam konteks ini UMKM harus menjadi backbone dalam blueprint kebijakan lokal, sehingga manfaat dan multipliernya dapat dirasakan luas bagi penyerapan tenaga kerja dan pengurangan tingkat kemiskinan.

Jika dilihat dari data statistik perdagangan internasional (WTO) dapat dijelaskan bahwa kontribusi UMKM dalam pasar internasional masih rendah (indikator tingkat ekspor), yaitu sebesar hanya 15% (nilai total untuk UMKM). Selanjutnya nilai tambah yang mampu dihasilkan dari UMKM juga terbilang relatif kecil antara 10-35%. Rendahnya nilai tambah dimungkinkan karena rendahnya penggunaan teknologi serta penjagaan kualitas dan mutu. Di sisi lain, UMKM memiliki kontribusi yang besar bagi perekonomian karena karakteristiknya yang padat tenaga kerja (labour intensive), sehingga secara ekonomi meningkatnya kinerja UMKM mampu meningkatkan multiplier ekonomi yang lebih baik karena penyerapan tenaga kerja yang meningkat. Sehingga pada akhirnya akan mendorong turunnya tingkat pengangguran, dan meningkatkan konsumsi masyarakat dan perputaran ekonomi.

Jika dibandingkan kontribusi UMKM dan perusahaan besar dalam ekspor di negara-nagara ASEAN, dapat disimpulkan bahwa di akhir 1990an kontribusi UMKM terhadap ekspor hanya mencapai 12%. Namun dalam kurun waktu 10 tahun, UMKM di negara-negara ASEAN menunjukan daya saingnya dan mampu berkontribusi hingga 23% dalam pasar internasional. Berdasarkan data terakhir tentang kontribusi UMKM dalam pasar ekspor di beberapa negara di ASEAN dapat dijelaskan bahwa Thailand merupakan negara tertinggi yang mampu mendorong UMKM nya untuk eksis di pasar ekspor, mencapai 35%. Dalam konteks ini, Indonesia merupakan negara di posisi terendah yang mampu mendorong UMKM nya ikut serta di pasar ekspor, mencapai hanya 9%, sisanya didominasi oleh perusahaan besar sebesar 91%.

Terkait kapabilitas teknologi negara-negara ASEAN dan ASIA, serta alokasi dana penelitian yang digunakan untuk mengembangkan produk-produk lokal. Dapat dijelaskan bahwa negara-negara yang sukses dalam persaingan bebas memiliki karakateristik yang hampir sama, yaitu memiliki tingkat adopsi teknologi yang tinggi yang diukur dengan banyaknya produk yang tersertifikasi ISO 9001, serta melakukan ekspor barang-barang dengan teknologi yang sangat tinggi. Selanjutnya negara-negara tersebut juga memiliki pengeluaran yang tinggi atas penelitian dan pengembangan (research and development) yang diukur jumlahnya dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB).

Oleh karena itu, kerangka kebijakan untuk mensupport UMKM harus mencakup delapan (8) aspek penting, antara lain: mendorong perilaku kolektif, peningkatan akses pasarpeningkatan SDM, peningkatan produktivitas, teknologi, inovasi dan akses keuangan. Selanjutnya dengan upgrading UMKM dengan memperhatikan 8 aspek tersebut, pengembangan UMKM harus diintegrasikan dengan aktivitas perusahaan multinasional (Multinational corporation/MNC) agar UMKM mampu menjadi bagian yang strategis dalam rantai nilai global maupun jaringan produksi internasional. Sehingga pada akhirnya, pengembangan ini akan dapat mengurangi gap pembangunan secara regional serta gap antara UMKM dengan perusahaan-perusahaan besar.

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

1 Comment

  1. Info menarik pak.
    Pengetahuan awal mengenai MEA bagi UMKM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *