Belajar dari warung Kopi

Bagaimana masa depan dunia setelah Donald Trump?
November 16, 2016
Rush
December 1, 2016
Show all

Belajar dari warung kopi

Dias Satria

Saat ini warung kopi menjadi salah satu icon bisnis penting di Kota Malang. Warung Kopi tidak sekedar merefleksikan sebuah tren atau lifestyle anak muda, namun lebih dari itu mencerminkan sebuah kematangan kreatifitas anak muda dalam berbisnis.

Kembali di tahun 2010 ketika saya melanjutkan studi PhD di University of Adelaide, Kopi menjadi hal yang tidak terpisahkan bagi seorang mahasiswa yang penuh dengan assignment, disertasi dan tekanan supervisor (pembimbing). Salah satu warung kopi favorite saya adalah “Espresso Royale” dengan Dane sebagai Barista yang ramah dan selalu hadir dengan “cappuccino with one sugar” setiap pagi sebelum ke kampus.

Warung kopi di “espresso royale” menjadi lokasi bertemunya para local supporters yang memiliki bisnis lokal “asli Adelaide”. Mereka berbagi cerita, berbagi kebahagiaan dan berbagi informasi. Saya merasa terkesan dengan apa yang mereka lakukan. Lingkaran pertemanan dan persahabatan di “Espresso Royale” sangat kental dan jauh dari basa basi politik dan kemewahan. Bahkan apa yang mereka lakukan mampu riil membangun Adelaide, dengan berbagai festival yang mereka kolaborasikan mulai dari festival makanan pinggir jalan, festival bersepeda dan kopi, festival kerajinan tangan hingga event-event besar tahunan.

Sekembalinya di Malang tahun 2014, saya melihat perkembangan Warung Kopi mulai bermunculan dan berkembang pesat. Para pelaku industri yang terlibat di dalamnya pun sangat serius menekuni bidang ini. Inilah yang memperkuat hipotesis bahwa industri kreatif yang dikembangkan anak muda jika sudah menemukan momentumnya akan luar biasa besar. Warung Kopi di Kota Malang jika dibandingkan dengan beberapa coffee shop yang ada di Melbourne ataupun Adelaide tidak berbeda jauh jika dilihat dari bagaimana Mesin espresso yang digunakan, design interior, peralatan kopi dan lain sebagainya.

Bahkan yang menjadi daya saing dan perbedaan dari Warung Kopi di Malang adalah ketersediaan varietas Kopi yang bermacam-macam dari berbagai daerah yang disajikan dengan model yang variatif khas “Single Origin”.

Hal ini tidak terjadi di beberapa coffee shop yang saya datangi di Adelaide karena yang menjadi andalan tidak jauh-jauh dari Capucino dan Café Latte.

Kematangan para pelaku bisnis di warung kopi terlihat dari kemampuan mereka memahami kopi, bagaimana teknologi untuk menghasilkan kopi yang berkualitas, rantai nilai (value chain) kopi serta kepeduliannya untuk mendapatkan kopi-kopi yang berkualitas. Bahkan di beberapa coffee shop yang ada di Kota Malang sudah digunakan mesin-mesin espresso berkelas yang tidak berbeda dengan yang dilihat di Kota-Kota Besar seperti Melbourne dan Adelaide.

Bisnis Kopi yang berkembang pesat saat ini merefleksikan keseriusan anak muda dalam berbisnis. Keuntungan bukan sekedar yang dicari bagi mereka, tapi kepuasan atas sebuah sajian terbaik dan friendship menjadi achievements jangka panjang yang terus diupayakan. Mereka terus berkembang dan berinovasi, sambil melakukan edukasi terus menerus pada masyarakat bahwa Indonesia punya kopi-kopi berkualitas, dan patut di banggakan.

Salut untuk anak muda. Semoga warung kopi juga bisa menjadi sumber inpirasi dan pusat local supporters, yaitu anak-anak muda yang saling support untuk kesuksesan bisnis bisnis lokal di sekitar mereka. Mari #support_locals.

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *