Berasa bodoh: [Random] Blockchain, e-wallet dan Fraud.

[Beasiswa] Contoh dokumen AAS (Australian Award Scholarship)
September 7, 2017
Inovasi Pembangunan dan Banyuwangi Festival
November 8, 2017
Show all

Berasa bodoh: [Random] Blockchain, e-wallet dan Fraud.

Dias Satria

Dua hari lalu, saya diundang oleh Bank Indonesia Palangkaraya untuk menjadi narasumber terkait Fintech (Financial Technology) dengan narasumber lain dari T-Cash Pak Haryo Pimp Telkomsel regional Kalimantan, Co-founder Tokopedia Pak Leon dan BI Fintech Office Jakarta Pak Ricky Satria. Saat itu saya diundang untuk menjelaskan tema ekonomi kreatif dan generasi milenial, termasuk bagaimana era milenial wajib menjadi jembatan gap “teknologi” dan kreatifitas dari UMKM yang tradisional untuk mengakses pasar digital.

Sejam sebelum acara terjadi diskusi yang menarik antara Tokopedia dengan BI Fintech terkait dengan regulasi yang mengatur tentang sistem pembayaran online. Diskusinya terkait dengan masukan BI untuk menggunakan e-wallet daripada mengajukan license e-money. Disini saya berasa bodoh, apa bedanya antara e-wallet dan e-money? Saya tidak faham.

Saya juga berasa bodoh, ketika diskusi dengan regulasi dalam sistem pembayaran digital. Sedikit sekali hal-hal hukum yang kita fahami sbg ekonom terkait dengan produk-produk dan inovasi keuangan di era digital.

Kemudian diskusi dilanjutkan dengan fraud yang terjadi dalam sistem pembayaran online, sehingga mendorong pihak tokopedia untuk mengambangkan tim khusus untuk menganalisis segala moral hazard yang mungkin terjadi dalam sebuah transaksi. Pertanyaanya, kalau selama ini moral hazard menjadi bahasan yang penting dalam ekonomi kelembagaan, apakah kita mampu mengidentifikasi moral hazard dengan tools yang tepat di era digital?

We know the problems, but we don’t know how to solve the problems.

Mereka juga terus mendiskusikan tentang pekerjaan-pekerjaan baru dalam digital economy, seperti: data scientist, data analyst, digital storyteller dan beberapa pekerjaan berbasis “algoritma”. Sebuah hal yang jauh dan belum kami sentuh untuk dipelajari dengan serius aplikasinya. Belum lagi belajar tentang Big Data dan manfaatnya dalam menganalisis perkembangan dan pengambilan keputusan bisnis. Pertanyaannya, apakah kita sdh menyiapkan mahasiswa kita dengan skill-skill yang dibutuhkan pasar?

Sehari sebelumnya, saya pun bertemu teman lama sekolah di Adelaide yang fasih sekali bercerita tentang kryptocurrency dengan teknologi Blockchain, dan beberapa situs penting seperti: Coinmarketcap dan Coincheckup. Selanjutnya diskusi dilanjutkan dengan model pembelian saham yang saat ini tidak lagi menggunakan sistem IPO (Initial Public Offering), tapi menggunakan sistem ICO (Initial Coin Offering). Dia mencontohkan bagaimana kita bisa membeli saham di luar negri, seperti Power ledger, salah satu perusahaan listrik di Australia dengan menggunakan token dan bitcoin. Pertanyaannya apakah lembaga-lembaga dikampus sdh mulai aware dengan perubahan tersebut? Bahwa perubahan sudah terjadi. Kita tau itu terjadi. Tapi kita tidak tau bagaimana menanggapinya.

Hal terakhir dari diskusi ini juga membicarakan perkembangan start-up Indonesia yang begitu pesat, namun masih sedikit yang concern mengembangkan start-up teknologi (tech start-up) yang menjual sebuah inovasi produk-produk teknologi.

Diskusi-diskusi diatas, membuat saya bertanya. Terus kemana saja saya selama ini?.

 

Malang, 29 Oktober 2017.

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *