Berbisnis di Era Sulit

Roadmap Parkir Kota Malang
October 16, 2016
India: terobosan teknologi informasi dan inspirasi bagi Aremania
November 9, 2016
Show all

Berbisnis di era sulit

Dias Satria

Berbisnis di era ini membutuhkan sebuah inovasi agar mampu eksis dan meraup keuntungan. Jika kita amati, salah satu faktor penyebab perusahaan besar seperti Yahoo.inc harus terdepak dalam kompetisi adalah karena buruknya inovasi yang dilakukan dalam bisnis.

 

Di level tukang ojek, kompetisi hadir dengan adanya inovasi “gojek” yang menawarkan berbagai jasa dan kenyamanan. Rating bintang sebagai refleksi pelayanan tukang ojek menjadi salah satu katalis memfilter tukang ojek berkualitas saja yang mampu eksis dalam bisnis ini. Sehingga tidak heran, anda akan merasakaan sapaan yang hangat serta pelayanan yang lebih baik dari tukang ojek dengan adanya rating tersebut.

 

Dalam teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) “survival of the fittest” dijelaskan bahwa “Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespons perubahan”. Hal ini menunjukkan bahwa pebisnis harus mulai sadar atas perubahan yang begitu cepat, khususnya perubahan atas preferensi dan kesukaan masyarakat yang semakin berubah.

 

Salah satu pakar marketing, Hermawan Kertajaya, menjelaskan bahwa jika anda memiliki produk yang disukai orang tua dan tidak disukai remaja maka produk anda lambat laun akan semakin pudar. Dalam konteks ini, memahami perilaku generasi Y dan Z, sebagai representasi masyarakat angkatan kerja dan anak muda harus menjadi fokus penting.

 

Secara umum, karakteristik kedua generasi ini sangat aware dengan Informasi Teknologi. Bahkan dalam beberapa riset, menghabiskan banyak waktunya dengan gadget. Oleh karena itu salah satu kunci sukses pemasaran yang harus dilakukan harus benar-benar sesuai dengan generasi tersebut. Yaitu bagaimana pemasaran dapat dilakukan secara lebih personal (in touch) dengan konsumen menggunakan media sosial yang tepat. Selain itu, generasi ini juga identik dengan kesukaannya terhadap visualisasi dan hal-hal yang baru. Oleh karena itu penggunaan teknik fotografi dan videografi, serta cerita yang menyentuh menjadi salah satu kunci sukses marketing di era ini.

 

Salah satu fungsi penting konsumen era ini adalah mereka memiliki fungsi advokasi melalui media sosial. Yaitu kondisi dimana mereka akan melakukan “kicauan” jika apa yang mereka beli, atau terima buruk atau tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Oleh karena itu, jangan pernah membohongi konsumen di era ini (woman, youth and netizen). Hal inilah yang harus menjadi dasar bagi penjual (produsen) jika berhadapan dengan konsumen.

 

Terakhir, harga yang dijual merupakan refleksi kepercayaan konsumen. Oleh karena itu untuk meningkatkan nilai jual produk maka diperlukan sebuah branding yang kuat bagaimana produk tersebut diterima oleh masyarakat. Dalam konsep ekonomi kreatif, ada 6 aspek penting bagaimana kreatifitas bisa mendorong nilai jual yaitu desain produk, cerita, symphony, empati, permainan, dan arti.

 

Hal ini secara sederhana dapat dijelaskan dalam industri kopi bagaimana anda bisa menjual cappuccino dengan harga 27.000, jauh diatas harga dasarnya dikarenakan desain latte art yang menarik, yang disajikan diatas cangkir yang elegan, mampu diceritakan ditanam dari petani lokal yang bersahaja, disajikan dengan proses teknologi dan suasana mesin grinder yang keras dan sebulan asap mesin espresso serta punya arti bagaimana kopi ini membawa kebersamaan antara barista dengan pengunjungnya. Inilah sebuah kreatifitas yang mampu mendorong nilai tambah.

 

 

 

 

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

1 Comment

  1. akbar says:

    Membuka cakrawala tentang pentingnya perubahan yang berbasis market analysisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *