Breakthrough 2016: Ekonomi Indonesia

mendeley/word/googlescholar
November 26, 2015
Young Economist Forum: Ajang Eksistensi Ekonom Muda Terpilih Indonesia
January 4, 2016
Show all

Breakthrough 2016: Ekonomi Indonesia
Dias Satria
Dosen Jurusan Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya

Tahun 2015 adalah tahun ekonomi dengan banyak cobaan internal maupun eksternal bagi Indonesia. Tahun ini merupakan ujian yang berat bagi Pemerintahan Jokowi-JK karena selain dihadapkan pada instabilitas global dan lesunya perekonomian dunia, pemerintahan ini menghadapi tekanan politik dan tekanan masyarakat yang besar atas kebijakan yang tidak popular atas sebuah reformasi struktural ekonomi.

Daya saing?
Daya saing ekonomi yang mengkhawatirkan sejak satu dekade terakhir harus menjadi sebuah peringatan penting bagi pemerintahan saat ini, bahwa perekonomian Indonesia tidak boleh lagi tergantung pada ekspor sumber daya alam (komoditas) serta bergantung pada tenaga kerja yang murah. Dalam satu dekade terakhir ini juga dijelaskan bahwa ekspor industri manufaktur Indonesia mengalami penurunan daya saing, dan kalah berkompetisi dengan Negara-negara lain di ASEAN.

Secara umum, Indonesia mengalami pemburukan dalam konteks neraca transaksi berjalan (yang mencatat ekspor-impor) dan neraca modal (yang mencatat aliran modal asing yang masuk). Dalam konteks ini, tren defisit neraca perdagangan selama 2012-2014 didominasi oleh pembiayaan capital flow dalam bentuk short-term investments dan sedikit sekali dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA). Hal ini tentu saja akan menjadi masalah dan sumber instabilitas dalam sistem keuangan karena karakteristik short-term investments mudah sekali keluar dari Indonesia yang menyebabkan krisis di pasar keuangan.

Dalam konteks daya saing, meski ranking WEF (World Economic Forum) menunjukan improvement dari posisi 38 ke posisi 34 namun beberapa indikator daya saing semisal Total factor productivity dan nilai tambah per pekerja di sektor manufaktur dan pertanian mengalami tren yang menurun. Namun nilai tambah yang positif per pekerja terjadi di sektor jasa. Sederhananya, tenaga kerja Indonesia meski murah namun tingkat produktivitas dan etos kerjanya rendah.

Selanjutnya jika dikaji lebih dalam peran Indonesia dalam konteks rantai nilai global (global value chain), atau keterlibatan Indonesia dalam memproduksi salah satu bagian produk (intermediate goods) maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perekonomian Indonesia termarginalisasi dalam hal ini.

Paket kebijakan 8
Paket kebijakan jilid 8 Pemerintah Jokowi-JK harus mendapatkan perhatian yang serius oleh seluruh jajaran eksekutif baik di tingkat nasional, regional maupun lokal. Artinya, kebijakan ekonomi yang telah diformulasikan ini harus menjadi sebuah guideline seluruh policy maker dalam membuat support-support policy.

Pemerintah saat ini saudah sangat peka atas permasalahan yang ada, dan bagaimana mencarikan jalan keluarnya. Hal ini dapat dilihat dari prioritas-prioritas kebijakan yang diarahkan pada perbaikan infrastruktur dan pengurangan biaya logistik guna meningkatkan konektivitas ekonomi daerah. Disisi lain, pemerintah juga peka betul atas pentingnya sebuah deregulasi dan kepastian hukum bagi Investasi yang masuk. Karena efek immaterial investasi yang masuk sangat penting bagi transfer of knowledge dan technological spillover.

Namun untuk mendukung paket kebijakan 8, pekerjaan rumah yang juga harus menjadi prioritas pemerintah adalah terus menjaga perbaikan sumber daya manusia khususnya dalam menciptakan tenaga kerja yang memiliki skill tinggi dan etos kerja yang baik. Disisi lain, support terhadap sektor jasa yang saat ini masih sangat lemah perlu untuk ditingkatkan insentifnya. Hal ini disebabkan karena tren sektor jasa yang ada di Indonesia mampu berkompetisi dan berdaya saing secara global, sehingga perlu trigger khusus agar sector ini dapat lebih berkembang dan tumbuh sebagai engine of growth yang baru.

Terakhir
Hal yang penting dan mendasar untuk dilakukan adalah sebuah terobosan (breakthrough). Disaat kondisi ekonomi yang belum stabil dan perbaikan regulasi (serta penegakannya) masih belum maksimal, pemerintah perlu melakukan terobosan yang cepat, cepat dan cepat. Semua kebijakan telah baik di formulasikan, hambatan yang ada pun sudah telah diidentifikasi dengan baik, namun terkadang masalah eksekusi sebuah reformasi struktural terkendala masalah yang sangat fundamental. Salah satunya adalah karena masalah tekanan politik, carut marut politik serta vested interests yang terkadang mendominasi implementasi kebijakan dan program reformasi.

Terakhir, pemerintah harus selalu berorientasi pada inovasi teknologi dan kreatifitas untuk mendorong sebuah produktivitas yang tinggi. Hal ini sangat penting untuk mendorong Indonesia agar menjadi upper middle income dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta menghindarkan diri dari bahaya middle income trap.

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

1 Comment

  1. Hidsal Jamil says:

    Artikel yang menarik Bapak. Lalu bagaimana dengan sebagian kalangan yang menganggap lemahnnya kinerja industri nasional bukan sebagai imbas dari deindustrialisasi, melainkan siklus bisnis kiranya direspon sebagai suatu hal yang biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *