Inklusi Keuangan

Rush
December 1, 2016
Mari bangun Museum Brawijaya
December 20, 2016
Show all

Inklusi Keuangan: kurangi gap kaya dan miskin

Dias Satria 

Saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang tengah gencar mendorong inklusi keuangan, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini jugalah yang mendorong inisasi terbentuknya Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang dilantik beberapa waktu yang lalu di Kabupaten dan Kota Malang. TPAKD yang beranggotakan unsur pemerintah daerah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pusat Statistik (BPS) pelaku industri jasa keuangan dan perguruan tinggi memiliki tujuan untuk mendorong percepatan akses keuangan khususnya bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan.

Secara sederhana inklusi keuangan adalah peningkatan layanan keuangan formal (financial service deepening) bagi masyarakat yang tidak mampu menjangkaunya. Dalam hal ini, kelompok masyarakat yang tidak mampu mengakses layanan atau jasa keuangan formal dapat disebabkan oleh banyak faktor antara lain: kurangnya edukasi, tingkat kemiskinan dan letak geografis yang jauh dari pusat perkotaan.

Mengapa inklusi keuangan ini menjadi sangat penting? Pertama, dalam konsep pembangunan yang berkelanjutan dibutuhkan sebuah strategi pembangunan yang inklusif yaitu strategi kebijakan yang mampu melibatkan masyarakat miskin dalam aktivitas ekonomi secara umum. Dengan kata lain, mereka mampu terberdayakan dan tidak terpinggirkan dari aktivitas ekonomi.

Indonesia kini menjadi sorotan karena tingginya kesenjangan pendapatan yang diukur oleh indikator gini rasio. Meski Kota Malang memiliki indeks gini rasio yang rendah dari level Jawa Timur dan Nasional, namun masalah kesenjangan pendapatan ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam memformulasikan kebijakan daerah.

Dengan kata lain, keberpihakan kebijakan pemerintah Kota Malang harus fokus pada upaya mendorong ekonomi kerakyatan, antara lain: a) mendorong inovasi dan perbaikan pasar-pasar tradisional, b) mendorong pemberdayaan UMKM melalui peningkatan SDM dan akses keuangan, c) memperkuat cluster-cluster atau pusat-pusat ekonomi masyarakat (semisal cluster tempe sanan, keramik dinoyo dan lain sebagainya) dan d) keberpihakan dalam mengawasi ketat dan mengatur bisnis retail modern yang mengancam pasar-pasar tradisional.

Kedua, pentingnya inklusi keuangan adalah untuk memberikan akses bagi masyarakat ekonomi lemah untuk mendapatkan akses keuangan formal dari lembaga jasa keuangan. Dalam hal ini adalah memberikan kesempatan yang besar bagi UMKM untuk meningkatkan pinjaman modal bagi kebutuhan ekspansi bisnis mereka.

Ketiga, inklusi keuangan mendorong masyarakat yang tidak memiliki akses layanan keuangan formal untuk teredukasi dan terlibat didalamnya. Baik itu dalam bentuk layanan keuangan bank, pergadaian, asuransi dan lain sebagainya.

Hal ini menjadi sangat penting bagi mereka untuk meyakini pentingnya sektor keuangan formal bagi kehidupan mereka sehari-hari. Concern inilah yang menjadi poin pokok upaya “inklusi keuangan” yang dilakukan OJK saat ini, sehingga masyarakat miskin dan terpinggirkan dapat terlepas dari jeratan “lintah darat” yang mencekik kehidupan mereka.

Oleh karena itu, inklusi keuangan juga harus dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan. Literasi keuangan merupakan hal yang penting bagi masyarakat untuk bijak dalam menggunakan uang mereka, serta bijak dalam menginvestasikan uang yang dimiliki. Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan juga dilakukan dengan mengenalkan produk-produk investasi yang bertanggung jawab, yaitu produk-produk keuangan yang jelas bisnis dan keuntungannya, produk keuangan yang resikonya terukur serta produk keuangan yang sesuai dengan preferensi mereka.

Jika masyarakat terliterasi dan inklusi keuangan dapat berjalan secara optimal maka upaya mendorong pembangunan yang berkelanjutan akan semakin mudah. Karena masyarakat semakin arif dalam menginvestasikan keuangannya dalam industri jasa keuangan. Hal ini juga yang akan mendorong industri jasa keuangan untuk beroperasi lebih berhati-hati (prudent) karena masyarakat tidak mudah untuk dibohongi dengan iming-iming keuntungan yang semu. Ini semua dilakukan karena keyakinan yang kuat bahwa industri jasa keuangan merupakan jantungnya sebuah perekonomian, maka dengan sehatnya sistem keuangan maka sehat pula perekonomian di wilayah tersebut.

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *