Jokowi dan Nawacita: Apakah ekonomi Indonesia membaik?

Ide penelitian – skripsi
September 23, 2015
Kota Malang mau jadi apa?
November 1, 2015
Show all

Jokowi dan Nawacita: Apakah ekonomi Indonesia membaik?

Dias Satria
Dosen Jurusan Ilmu Ekonomi, Universitas Brawijaya

Nawacita dan 9 harapan
Apakah ekonomi Indonesia membaik? Itu mungkin pertanyaan yang mendasar setelah satu tahun kepemimpinan Jokowi dengan agenda besar yang diemban “Nawacita” atau 9 harapan.

Secara sederhana, nawacita memiliki ide luhur mengedepankan (1) pendidikan, (2) kesehatan dan (3) kesejahteraan (welfare) yang merupakan bahan baku pokok sebuah pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini tentu saja harus didukung dengan sebuah kekuatan (4) maritim, (5) pangan, (6) energi, (7) infrastruktur dan (8) pariwisata. Yang kesemuanya bertolak dasar pada sebuah (9) reformasi birokrasi.

Salah satu contoh Reformasi birokrasi yang berhasil dapat dilihat di sektor perhubungan khususnya Kereta Api Indonesia, dimana perubahan dan inovasi telah banyak memberikan sebuah lompatan surplus bagi masyarakat (consumer welfare) dan juga penyedia jasa. Hal inilah yang seharusnya dapat menginspirasi kebawah dalam jajaran pemerintah lokal, bagaimana sebuah entrepreneurial spirit dalam reformasi birokrasi mendobrak sebuah kebiasaan lama yang buruk.

Kuncinya ada dalam sebuah kepemimpinan yang memiliki visi yang kuat, tegas dan kedepan, serta mampu mengeksekusi visinya hingga sukses menjadi sebuah tindak nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Dalam hal ini pemimpin juga harus mampu menyelesaikan problematika politik kepentingan, serta menyadarkan bawahannya atas pentingnya sebuah kerja keras, perubahan, inovasi dan kemanfaatan dengan tetap memperhatikan rambu-rambu regulasi atau peraturan yang ada.

Capaian makroekonomi
Dalam pencapaian nawacita yang lengkap tentu pemerintahan Jokowi-JK tidak boleh lupa atas pencapaian-pencapaian lainnya yang lebih konkrit, seperti: Pertama, bagaimana pemerintah dapat menciptakan lapangan kerja melalui kebijakan bisnis yang kondusif dengan dukungan infrastruktur yang mampu menekan biaya produksi dan logistik; kedua, ketimpangan pendapatan masyarakat yang melebar harus ditekan dengan mempercepat pembangunan di desa tertinggal dan ketiga, mendorong daya saing ekonomi Indonesia untuk berkompetisi dalam perdagangan internasional, dan meraih keuntungan untuk masyarakat.

Perjalanan ekonomi bangsa telah mengalami berbagai perubahan yang mendasar seiring dengan perubahan yang terjadi. Secara umum dapat dilihat bahwa Indonesia memiliki kemampuan yang kuat dalam melakukan pengelolaan Makroekonomi yang baik dan stabil dengan melakukan reformasi dalam pengelolaan hutang (debt rule).

Disisi lain, supervisi dalam sektor keuangan dan perbankan terus mengalami perbaikan dengan semakin berhati-hatinya sektor keuangan dan perbankan dalam meningkatkan kredit. Namun tentu saja, dalam situasi resesi dan perlambatan ekonomi yang dialami Indonesia saat ini sektor perbankan harus mulai melakukan evaluasi dan monitoring atas kemungkinan resiko kredit macet (non performing loans) sehingga tidak menganggu likuiditas dan solvabilitas perbankan.

Di sektor moneter, kebijakan bank sentral saat ini memiliki fokus target inflasi (inflation targeting) yang cukup berat akibat tekanan ekspektasi masyarakat serta masalah inflasi harga pangan (food prices) yang menjadi domain tanggung jawab banyak pihak. Dalam hal ini masalah koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas harga merupakan tantangan berat Bank sentral. Disisi lain, aliran modal yang sangat terbuka di era globalisasi mendorong fluktuasi yang tajam atas nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya menekan pada indikator-indikator makroekonomi lainnya seperti suku bunga, uang inti dan pada akhirnya mempengaruhi target inflasi. Oleh karena itu selain pencapaian target stabilitas harga oleh bank sentral, manajemen devisa Indonesia perlu untuk di intervensi guna mengurangi dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan.

Dalam konteks fiskal, realisasi penerimaan pajak belum secara optimal dikoleksi oleh pemerintah sehingga berdampak pada terbatasnya ruang gerak fiskal untuk pembiayaan investasi pembangunan.

Secara sederhana jika dilihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih dibawah 5%, maka harapan untuk dapat merubah wajah ekonomi bangsa dalam 10-20 tahun kedepan akan sulit untuk tercapai kecuali ada perubahan yang sangat besar terjadi dalam struktur perekonomian Indonesia. Meski statement ini pun harus realistis melihat perlambatan ekonomi regional yang terjadi saat ini serta menurunnya kinerja partner ekonomi Indonesia seperti Amerika Serikat, Jepang dan China.

Apakah Indonesia mampu bersaing?
Salah satu Indikator yang baik menjelaskan sebuah daya saing secara umum adalah Global competitiveness index (GCI) yang mengkombinasikan pengukuran kelembagaan, kebijakan maupun faktor yang mempengaruhi sebuah produktivitas. Artinya, indicator ini mengukur sejauh mana kelembagaan pemerintah mampu menciptakan sebuah atmosfer bisnis yang baik bagi investasi, yang dalam hal ini mampu menciptakan sebuah efisiensi ekonomi, kepastian hukum maupun keuntungan investasi yang bagus.

Perhitungan makroekonomi atas produktivitas diukur dengan indikator Total factor productivity yang menjelaskan seberapa produktifnya sebuah capital dan labour (tenaga kerja) dalam menghasilkan sebuah output (barang dan jasa). Artinya kuantitas sebuah capital maupun labour saja tidak cukup baik untuk mendorong sebuah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan, sehingga perlu ada sebuah perubahan policy yang mampu mendorong produktivitas. Dalam hal ini, program pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dibidang kesehatan dan pendidikan merupakan modal dasar peningkatan produktivitas labour.

Dalam konteks produktivitas capital sangat erat kaitannya dengan perbaikan infrastruktur yang mempengaruhi biaya logistik atau pengiriman barang dan jasa.

Saat ini pemerintah Jokowi tengah memulai beberapa program besar infrastruktur guna mendukung daya saing ekonomi Indonesia. Logistic system yang sangat advance, efisien dan aman memang sangat dibutuhkan untuk mendukung resource mobility yang vital bagi bahan bakar produksi. Disisi lain, sistem logistik yang advance juga dibutuhkan untuk mendukung partisipasi Indonesia dalam perdagangan internasional. Sehingga kedepan, ekspor barang-barang Indonesia tidak lagi melewati pelabuhan antara yang ada di Negara-negara tetangga sehingga keuntungan yang lebih besar tidak dinikmati Indonesia sebagai Negara asli pengirim. Jika dilihat dari indikator logistic performance index, maka proyek infrastruktur pelabuhan dan jalan raya guna mendukung aktivitas ekonomi perlu untuk dikembangkan

Daya saing Indonesia juga perlu dipertanyakan dalam konteks industri apa yang punya daya saing dalam perdagangan Internasional? Apakah kita hanya mampu mengekspor sumber daya alam yang nilai tambahnya (value added) rendah?

Secara umum tidak banyak Industri Indonesia yang mampu bersaing tinggi didalam perdagangan internasional. Sebagian konglomerasi yang terbentuk masih sangat nyaman dengan pasar domestik yang besar, dengan dukungan intervensi pemerintah untuk melindungi aktivitas ekonomi mereka. Dalam hal ini isu nasionalisme dan intevensi yang berlebihan perlu menjadi perhatian serius agar industri Indonesia mampu melakukan inovasi dan perubahan yang mendorong persaingan di era global.

Dalam konteks pendampingan dan kebijakan internasional tidak dapat dipungkiri bahwa intervensi pemerintah juga perlu terus dilakukan dengan lebih rigid dan detail untuk masing-masing komoditas yang diekspor. Dalam kasus crude palm oil Indonesia yang kalah bersaing dengan Malaysia di Pakistan, merupakan sebuah contoh sederhana bagaimana sebuah kesepakatan atau agreement perdagangan bebas (free trade area) perlu untuk dikaji dan dikembangkan terus sehingga tidak mengganggu kinerja ekspor produk Indonesia. Dalam kasus tersebut, FTA antara Pakistan dan Malaysia telah menggeser CPO Indonesia dengan tarif yang cukup tinggi.

Industri Indonesia perlu untuk melakukan transformasi struktural atas kinerja dan produktivitasnya khususnya dalam menciptakan inovasi teknologi yang mampu mendorong skala ekonomi yang tinggi. Tentu butuh modal besar untuk melakukannya, mulai dari R&D (Research and Development) hingga tahapan implementasinya. Namun dalam hal ini, proses kerjasama penelitian khususnya dari universitas (perguruan tinggi) untuk berkontribusi dalam inovasi industry dan penerapan teknologi perlu untuk ditingkatkan lagi. Switzerland merupakan contoh Negara yang mampu mengkoneksikan antara korporasi dan perguruan tinggi khususnya bagaimana membuat hasil penelitian dan paten menjadi sebuah output (barang dan jasa) bernilai ekonomi tinggi.

Kunci sukses kita ada di daya saing dan produktivitas. Sehingga kata kerja, kerja dan kerja harus ditambah dengan kerja, kerja, kerja berkualitas. Yang artinya kita melanjutkan kerja keras kita dengan strategi dan persiapan yang matang agar hasil kerja kita bisa lebih berkualitas dalam menciptakan sebuah output yang lebih besar, baik dan berkualitas.

Selanjutnya, daya saing dalam era global juga harus disertai dengan kemampuan untuk terlibat dalam regional production sharing dengan mengambil bagian dalam produksi salah satu bagian yang menjadi keunggulan (competitive advantages) Indonesia. Dengan hal inilah, maka keterlibatan Indonesia dalam persaingan global akan lebih marak dan berdampak positif bagi perubahan ekonomi Indonesia.

Terakhir, isu penting yang belum dibahas dalam tulisan ini terkait dengan keterlibatan small and medium enterprises (SMEs) juga perlu didorong untuk lebih maju, dengan fokus yang lebih besar yaitu bagaimana SMEs dapat terlibat dalam perdagangan internasional maupun global value chain. Disisi lain, pembangunan desa yang saat ini menjadi program besar nawacita pun sangat diharapkan manfaatnya, khususnya dalam menciptakan sebuah kelembagaan desa yang lebih kuat dengan masyarakat yang lebih partisipatif dan aktif dalam menciptakan aktivitas ekonomi yang tumbuh dan berkelanjutan.

Malang, 20 Oktober 2015
Dias Satria

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *