Pemimpin dan hegemoni kapitalisme

Sebagai pengambil kebijakan (policy maker), Seorang pemimpin dituntut utk mampu mengatasi setiap tekanan dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Dalam konteks ini tekanan-tekanan atas sebuah kebijakan bisa muncul dari, Partai pengusung, konglomerat, media dan masyarakat dll.

Setiap pressure tentu memiliki karakteristik yg Berbeda. Sebagai contoh pressure yg dtgĀ dari masyarakat bisa diatasi dgn banyak aspek seperti bantuan teknis, pantauan langsung di lapangan (blusukan) atau kebijakan terkait langsung dgn apa yg dibutuhkan masyarakat. Dalam konteks ini peran media informasi juga penting Dalam meminimalisir asymetric information yg memungkinkan terjadinya kesalahpahaman dr masyarakat.

Namun bagi saya pribadi, pressure yg paling menakutkan adalah yg datang dari “konglomerat”. Jalur afiliasinya sangat banyak dan variatif, bisa melalui Partai, media, NGO, kelompok masyarakat dll. Dan tidak bs dipungkiri, apapun Akan mereka lakukan Demi mempertahankan bisnis dan ekspansi bisnis mereka kedepan.

Hampir di setiap daerah dan Tata Niaga, akan selalu Ada cukong-cukong yg bermain. Bahkan Bisnis-Bisnis terlarang yg tidak terjamah regulasi pun, bebas beroperasi krn kuatnya peran mereka dalam bisnis-bisnis di daerah.

Hal inilah yg saya pikir banyak membuat orang yg kompeten tidak ingin maju sebagai pemimpin. Bahwa design kebijakan yg mereka siapkan Akan mentah dikunyah pelaku-pelaku bisnis yg haus akan kekuasaan.

Pemimpin yg benar dan baik tidak Akan bertahan lama. Karena dengan berbagai cara pun, para pelaku bisnis yg tidak bermoral itu Akan mengganggu kinerja sang pemimpin dgn berbagai cara.

Moral of the story:
– sebaiknya KPK tidak hanya mengajar para politikus dan pejabat, tapi juga kejar cukong-cukong daerah perusak tatanan ekonomi daerah.

– Mari Dukung pemimpin yg benar dan baik, yg mau bekerja utk masyarakat dan bukan utk kelompok atau Partai Saja.

Terinspirasi dari Mundurnya Seorang walikota baik dan benar.

DS/13-02-2014