Potensi Kopi Sebagai Komoditas Unggulan Indonesia

Oleh: Shindy Almandasari

Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Berdasarkan data Kementerian Pertanian pada 2018, produksi kopi Indonesia mencapai 674.636 ton. Sementara area lahan perkebunan kopi di Indonesia berada di daerah dataran rendah dengan jumlah total luas lahan kopi adalah 1.259.136 ha. Namun, jika melihat data jumlah produksi dan luas lahan yang dimiliki Indonesia, terdapat indikasi bahwa tingkat produktivitas kita masih rendah, yaitu hanya 731 kg per hectare.

Selain itu, Menurut Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia, sebanyak 97% produksi kopi Indonesia masih di ekspor dalam bentuk biji kopi hijau yang masih mentah dan hanya 3% sisanya yang sudah diekspor dalam bentuk kopi olahan. Sebenarnya kegiatan ekspor kopiakan lebih banyak memberikan keuntungan jika kopi diekspor dalam bentuk kopi olahan, karena hal tersebut tentu akan dapat membuka banyak lapangan perkerjaan industri pengolahan kopi. Pemerintah dalam hal ini telah melaksanakan program pembiayaan petani kopi yang diberikan secara perkelompok untuk proses pemilihan benih unggul guna meningkatkan kualitas biji kopi lokal.

Namun, terdapat permasalahan lain yang dihadapi oleh para petani lokal yaitu keterbatasan dalam proses distribusi. Rantai pemasok antara petani dan pembeli terputus di tengah-tengah akibat kurangnya akses petani terhadap pembeli sehingga mengakibatkan para petani lokal kesulitan dalam memasarkan produknya. Hal ini mengharuskan adanya keterlibatan semua pihak yang saling bersinergi dan  berkolaborasi dalam pemanfaatkan potensi yang dimiliki oleh komoditas kopi Indonesia, salah satunya adalah kerjasama antara pemerintah dan millenials.

Dengan kondisi generasi milienalyang sedang menjadi tren saat ini, kopi bukan lagi sebagai konsumsi tetapi juga sebagai gaya hidup (life style). Melihat kopi sebagai tren gaya hidup menjadikan banyak milenial tertarik untuk mengembangkan bisniscoffee shop. Salah satu contohnya adalah kota Malang.

Berkembangnyacoffee shopdi Malang ini menciptakan kompetisi antar pengusaha kopi, sehingga masing-masing pengusaha kopi dituntut untuk menciptakan kualitas yang baik. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktifitas dan pengenbangan inovasi usaha tersebut.

Andreas Edi Susetyo selaku Anggota Komisi XI DPR RI mengatakan Malang menjadi clusterpengembangan kopi nasional pada 2020 sehingga perlu didukung sinergi dan kolaborasi antar stakeholder agar program tersebut dapat berjalan dengan baik, yakni pengembangan kopi dari hulu hingga hilir.

Salah satunya dengan menggelar Festival Kopi Malang Raya Artcofest 2019. Festival Kopi Malang Raya Artcofest sendiri merupakan event kolaborasi kopi yang bekerjasama dengan Universitas Brawijaya (UB) dan Penggiat Kopi Malang Raya, mulai dari petani kopi, coffee shop, roastery, dan pemerintah daerah. Tujuan event ini, selain mengenalkan kopi lokal, juga untuk meningkatkan transaksi ekonomi, penguatan rantai nilai kopi yang lebih efektif dan efisien dalam mendorong nilai tambah kopi. Selain itu juga sebagai wadah peningkatan kapasitas dan keahlian pelaku kopi lokal untuk menghasilkan kopi yang berkualitas.

Oleh karena itu, proses mulai dari budi daya hingga penanganan pascapanen menjadi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan mendorong nilai tambah kopi. Selain itu dengan adanya berbagai program yang dilakukan pemerintah tersebut diharapkan dapat mengangkat potensi kopi lokal yang ada sebagai kekuatan baru perekonomian. Dengan menghasilkan produk lokal yang baik dan berkualitas, maka akan menarik perhatian pasar baik pasar dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga brandKopi Indonesia semakin dikenal di mancanegara sekaligus dapat meningkatkan nilai tambah untuk ekspor kopi Indonesia.