Qasir: Solusi Permasalahan UMKM

Oleh: Shindy Almandasari

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) akan terus menjadi ujung tombak pemerintah dalam mendorong perekonomian Indonesia. Pasalnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir sektor UMKM ini terus mengalami pertumbuhan, terlebih dukungan pemerintah lewat Kementerian Koperasi dan UKM RI yang memberikan peluang bagi pebisnis kecil untuk berkembang.

Kementerian Koperasi dan UKM RI mencatat pada 2018 terdapat kontribusi 60 juta unit UMKM sebesar 60,34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kontribusi ini mampu membantu penyerapan tenaga kerja hingga 97% dari total tenaga kerja nasional. Dari total 60 juta unit UMKM, 57 juta unit diantaranya adalah pelaku usaha mikro. Namun sayangnya, hanya 1% dari usaha tersebut yang dapat berkembang menjadi UMKM yang berdaya saing. Hal ini mengacu pada permasalah utama yang dihadapi oleh UMKM yaitu kurangnya akses permodalan. Menurut data Ototitas Jasa Keuangan (OJK) sebanyak 49 juta unit UMKM dinilai masih unbankable.

Banyaknya UMKM yang unbankableini disebabkan karena belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial dalam proses pencatatan keuangan. Hal ini tentu saja menyulitkan para pemilik UMKM untuk mendapatkan akses terhadap layanan jasa keuangan terutama permodalan karena tidak adanya pencatatan keuangan yang memadai. Sehingga pencatatan keuangan merupakan hal yang penting dan krusial dalam keberlanjutan UMKM.

Berangkat dari permasalahan tersebut munculah ide dari anak bangsa untuk menciptakan usaha rintisan (startup)yang dapat mempermudah para pemilik UMKM dalam pencatatan transaksi bisnis. Salah satunya adalah Qasir.

Menurut Rachmat Anggara selaku Co. Founder Qasir, permasalahan utama dari pengembangan UMKM mencakup tiga hal, yaitu keterbatasan teknologi, distribusi dan permodalan. Sehingga Qasir hadir sebagai inovasi yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut.

Dengan memanfaatkan teknologi yang berkemabang pesat saat ini, Qasir menawarkan kemudahan dalam pencatatan transaksi bisnis (poit of sale)melalui perangkat digital. Melalui sistem point of saleini dapat membantu para pemilik UMKM untuk mencatat penjualan, mengelola produk, mengawasi stok, dan memantau laporan transaksi. Selain itu, Qasir juga bekerjasama dengan agen grosir untuk mendukung perputaran persediaan barang sehingga memudahkan pemilik UMKM dalam memantau stok barang dalam kegiatan operasional. Hal ini juga akan memudahkan pemilik UMKM untuk melakukan stok ulang dan menghitung jeda waktu yang diperlukan dalam memesan ulang maupun memproduksi produk sebelum stok benar-benar habis.

Rachmat Anggara juga menjelaskan hingga saat ini aplikasi Qasir telahdidownload sebanyak 180.000 kali oleh penggunanya di seluruh Indonesia. Uniknya, Qasir ini dapat digunakan oleh siapa saja hanya dengan mendownload aplikasi secara free atau tidak ada pungutan biaya apapun bagi para penggunanya. Hal ini karena tujuan utama dibuatnya Qasir adalah untuk menciptakan kesempatan ekonomi yang sama untuk semua pedagang, tutur Rachmat Anggara.

Pengguna aplikasi Qasir juga bisa menikmati fasilitas digital payment dan pembiayaan usaha yang disalurkan oleh fintech yang sudah bekerjasama dengan Qasir, seperti Dana, OVO, Go-Pay dan Link Aja serta berbagai komunitas salah satunya adalah Jagoan Indonesia. Selain itu, Qasir juga memiliki program pelatihan untuk pemilik UMKM yang dilakukan tentunya juga secara gratis.

Adanya aplikasi seperti Qasir ini diharapkan dapat mempermudah pemilik UMKM dalam menjalankan usahanya. Pemilik UMKM juga dapat lebih fokus mengembangkan bisnisnya, karena dengan aplikasi yang ada juga memungkinkan bagi pemilik UMKM untuk memantau usaha dengan cabang lebih dari satu.

Menggunakan aplikasi seperti ini juga akan menaikkan kapabilitas pemilik UMKM dalam mengelola usaha mereka, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan nilai aset usaha. Dengan demikian, pemilik UMKM tak hanya sekadar memiliki usaha semata, namun usaha yang berkualitas dan berkelanjutan.