Ramadhan dan Ekonomi Masyarakat

Virus, Peretasan dan Ancaman Bisnis
May 16, 2017
Banyuwangi Tourism
May 27, 2017
Show all

Dalam konteks ekonomi, momen Bulan Ramadhan adalah “trigger” (pemicu) paling positif dalam menodorong aktivitas ekonomi secara umum. Bahkan momen ini punya andil yang sangat signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi masyarakat yang meningkat. Dalam studi yang dilakukan oleh Nielsen Global Survey pada tahun 2016, momen lebaran mampu mendongkrak permintaan terhadap barang konsumsi naik hingga 9.2%. Permintaan yang tinggi ini tidak hanya terjadi di pasar modern, namun juga terjadi di pasar-pasar tradisional.

Dalam logika ekonomi, permintaan yang melonjak ini tentu saja akan mendorong kenaikan harga secara signifikan. Oleh karena itu tidak heran jika dalam sejarah ekonomi Indonesia, kenaikan inflasi belum pernah negatif ketika momen Ramadhan. Bahkan ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1997-1998, yang diikuti dengan pendapatan nasional yang merosot, namun permintaan terhadap barang-barang konsumsi meningkat tajam.

Dalam konteks diatas, maka salah satu ancaman yang harus diantisipasi di saat momen Ramadhan adalah hadirnya para spekulan, khususnya spekulan yang berusaha memanfaatkan keadaan untuk memainkan harga bahan makanan. Hal ini dilakukan dengan penimbunan ketersediaan bahan pangan agar harga barang meningkat.

Selanjutnya, dengan jumlah dan nilai transaksi yang meningkat di momen Ramadhan maka akan berimplikasi pada permintaan atas jumlah yang beredar, yang dalam hal ini menjadi ranah Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas dalam sistem pembayaran.

Terakhir, dengan meningkatnya permintaan masyarakat di momen Ramadhan maka geliat di pasar tradisional, pasar modern dan pasar informal akan semakin meningkat. Dalam hal ini akan muncul pemain-pemain baru musiman, yang ikut menikmati profit di momen Ramadhan dalam berbagai sektor, diantaranya: kuliner, kerajinan tangan dan fashion.

Dalam mengantisipasi tantangan dan ancaman diatas maka kebijakan pemerintah harus lebih adaptif khususnya dalam mengantisipasi permintaan yang melonjak dan tingginya harga bahan pangan. Oleh karena itu, ada beberapa pos strategis yang harus dijaga, antara lain: tata niaga pangan, logistik (pengiriman barang), transportasi manusia dan sistem pembayaran.

Ada hal yang berbeda di tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya dengan tren ekonomi digital yang terjadi di berbagai sektor, seperti: transportasi (semisal dengan hadirnya UBER, GRAB dan GOJEK), perdagangan (e-commerce), keuangan (financial technology) dan pelayanan sesuai permintaan (on-demand service). Disruptions atau inovasi dalam ekonomi digital ini tentu akan mempengaruhi shaping atau model preferensi masyarakat dalam berbelanja. Oleh karena itu, jika pasar kaget tidak seramai seperti biasanya atau pasar modern tidak seramai seperti tahun-tahun sebelumnya maka dipastikan disebabkan karena “disruptions” tersebut.

Oleh karena itu, perlu menjadi perhatian para pelaku bisnis musiman untuk melihat potensi dan mengatur strategi marketing di era digital. Tentu saja, permintaan di momen Ramadhan akan terus meningkat, namun preferensi atau cara masyarakat berbelanja akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai contoh, para pemain bisnis musiman dapat menggunakan media sosial dan “internet” untuk memasarkan barang-barang dan jasa yang diinginkan konsumen.

Namun hal serius yang harus terus dipantau Pemerintah adalah ancaman kenaikan harga bahan pangan dan ketersediannya. Oleh karena itu pemerintah perlu melakukan pengecekan terhadap gudang-gudang para pengepul, dan melakukan operasi pasar terkait dengan hal ini. Di tahun 2016 sebagai contoh, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) menemukan banyak indikasi permainan harga di saat lebaran, dan memberikan denda atau sanksi bagi mereka yang melanggar. Di tahun ini, tentu saja upaya tersebut harus ditingkatkan dan dilakukan oleh pemerintah dengan enforcement (penegakan hukum) yang lebih keras.

Hal yang sulit sekali terjadi di saat ini, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya adalah terkait harga biaya transportasi (pesawat dan kereta api) yang sudah memasuki era digital. Meski begitu, pengawasannya pun harus terus dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi dampak yang negatif dari para spekulan.

Terakhir, momen Ramadhan seharusnya digunakan sebagai momen untuk melakukan aktivitas ekonomi islam dengan lebih professional. Dalam hal ini, melihat potensi masyarakat muslim yang sangat besar, diharapkan momen Ramadhan akan muncul bisnis-bisnis islam yang betul-betul konsekuen melaksanakan prinsip-prinsip islam.

Sebagai contoh, sertifikasi halal untuk makanan dan minuman serta prinsip-prinsip perbankan dengan model perbankan islam. Hal ini dilakukan agar potensi masyarakat muslim yang begitu besar dapat dinikmati dalam pengembangan ekonomi islam di Indonesia. Indikasinya, perilaku sedekah, infak dan Zakat akan meningkat dengan sangat drastis, dan kesadaran masyarakat muslim untuk melaksanakan prinsip-prinsip islam akan semakin baik, seperti menjauhi gharar, maysir, tadlis, ihtikar dan lain sebagainya. Oleh karena itu, agar momen Ramadhan tidak hanya seperti tahun-tahun sebelumnya maka perlu ada perubahan yang signifikansi dalam mengelola potensi ini, termasuk melaksanakan prinsip islam dengan baik karena potensi masyarakat muslim saat ini yang makin edukatif dengan tingkat pendapatan yang terus meningkat.

Dias Satria
Dias Satria
Dias Satria, Research field :Economic development, international trade, Banking and small/medium enterprise Email. dias.satria@gmail.com Mobile Phone. +62 81 333 828 319 Office Phone. +62 341 551 396

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *